Rektor Unipdu Berikan Sebutan "Gus" Pada Menpora

Print
User Rating: / 3
PoorBest 

rektor_unipdu_MenporaPada kunjungan ke Unipdu Jombang kemarin, Andi Alfian Mallarangeng memberikan kuliah umum di Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu), Rejoso Peterongan,. Petinggi DPP Partai Demokrat itu mendapat panggilan gus dan kiai haji. Sebutan itu diberikan Rektor Unipdu Prof Ahmad Zahro. Kunjungan ke Ponpes Darul Ulum (PPDU) itu, adalah kunjungan pertama bagi Andi. Dia adalah teman kuliah KH Muhamad Zaimudin As’ad, pengasuh PPDU saat menempuh studi sarjana di Fisipol UGM pada 1980-an.

Kedatangan Andi Mallarangeng di Kota Santri, ditemani rombongan dari Pemprov Jatim, yang dikomandani Wagub Saifullah Yusuf. Sekitar pukul 10.30, rombongan menumpang helikopter turun di Alun-Alun Jombang. Mereka disambut Bupati Suyanto, Wabup Widjono Soeparno dan Pengasuh PPDU KH Zulfikar As’ad alias Gus Ufik.
Begitu turun, rombongan langsung beranjak ke PPDU Desa Rejoso Kecamatan Peterongan melalui jalan darat. Di kampus PPDU, Andi memberikan kuliah umum. Tampil menyampaikan pembukaan, Rektor Unipdu Prof Ahmad Zahro. “Selamat datang Drs Kiai Haji Andi Alfian Mallarangeng,” katanya. Hal itu langsung disambut tepuk tangan dari hadirin.

Saat memberikan sambutan, Prof. Zahro juga menyebut Menegpora dengan panggilan Gus Andi. “Karena sudah berkenan berkunjung di lingkungan ponpes. Jadi bisa disebut Gus Andi,” ujarnya yang lagi-lagi disambut ger-geran hadirin.

Ia juga menyebutkan, kepemimpinan Menegpora Andi juga memperkenalkan istilah TKO (Technical Knock Out) dalam dunia sepak bola. “Bukan hanya di tinju rupanya. Di sepak bola gara-gara Gus Andi juga TKO dalam sepak bola,” bebernya.
Soal TKO, itu berkaitan dengan konflik antara Andi dengan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Akhir-akhir ini, Menegpora ‘menang angin’ menyusul gagal berlangsungnya kongres PSSI di Riau.

Andi dalam kuliah umum menyampaikan secara implisit, bahwasannya konflik yang terjadi ada kaitannya dengan jalannya demokrasi. “Ini agar demokratisasi di Indonesia terus berjalan,” kata alumnus UGM ini.
Andi mengibaratkan, Nurdin Halid laiknya Muammar Khadafi, presiden Libya, yang ngotot mempertahankan kekuasaan. “Bisa disebut Khadafi kecil,” ucapnya.


Nurdin juga dianggap tak bisa meniru langkah mantan Presiden Habibie, ketika laporan pertanggung jawabannya ditolak MPR, saat reformasi bergulir tahun 2000 lalu. Begitu LPj ditolak, Habibie tak mau mencalonkan lagi. Lalu, muncul Gus Dur yang mampu diterima banyak pihak. “Ini kalau terjadi di PSSI, selesai sudah (tak ada konflik berkepanjangan),” jelasnya.